Arsenal akhirnya harus menghadapi mimpi buruk mereka. The Gunners sempat berharap kalau musim ini akan bisa menjadi akhir dari penantian panjang mereka untuk memenangkan 4 kejuaraan sekaligus. Tapi pertandingan mereka di Piala EFL pada partai final melawan Manchester City akhirnya membuktikan tim ini punya masalah serius yang sudah menahun dan belum berhasil dibereskan oleh Mikel Arteta. Pertandingan yang membawa mimpi buruk untuk Cityzens ini semakin menarik untuk diulas karena kekalahan Mikel Arteta dan pemainnya ditentukan oleh pemain gelandang.
Fakta Menarik di Balik Kekalahan Arsenal
Segalanya seharusnya berakhir dengan berbeda untuk Arsenal dalam partai final Piala EFL musim ini. The Gunners seharusnya bisa mengukir nama mereka sebagia pemenang kejuaraan setelah 3 kali gagal di partai final. Tercatat ada 3 kali mereka mencapai final, tapi gagal. Di tahun 2007, mereka kalah dari Chelsea. Kemudian di tahun 2011 dari Birmingham City, dan terakhir dari Manchester City di tahun 2018. Pemain The Gunners berharap kalau mereka akhirnya bisa menyelesaikan musim ini dengan menggondol pulang 4 trofi sekaligus, harapan yang sekarang dipastikan sudah sirna. Mereka juga sedang berjuang untuk bisa lepas dari status juara kedua yang sudah bertahan nyaris 50 tahun terakhir.
Tapi semua usaha mereka akhirnya sia-sia. The Gunners harus kembali menyandang status sebagia juara dua. Tidak ada satu pun penggemar The Gunners yang bisa mengklaim kalau skuad Pep Guardiola tidak layak untuk menang dari pertandingan ini. Kenyataan ini terpampang jelas di depan mata mereka, meski sulit untuk diterima.
Permainan Arsenal Kembali Tumpul
Final Piala EFL musim sekarang menjadi yang pertama yang mempertemukan 2 tim dari peringkat paling atas Liga Primer. Tapi status ini sebenarnya tak lantas membuat The Gunners benar-benar dipertimbangkan sebagai kandidat kuat untuk menang dari lawan mereka. Posisi mereka yang ada di peringkat paling atas klasemen memang dipandang banyak orang sebagai bukti tim ini punya peluang paling besar. Posisi mereka semakin diuntungkan ketika Manchester City beberapa kali ditampar keras saat melawan Real Madrid. Cityzens juga seperti mulai kehilangan sentuhan emas mereka di EPL. Tapi kalau diperhatikan lebih serius, permainan Pep Guardiola dan pemainnya justru meningkat pesat sebelum pertandingan ini dimulai.
Gambaran latihan sebelum pertandingan Arsenal mengindikasikan kalau Jurrien Timber, Martin Odegaard, dan Eberechi Eze akan bisa kembalib ermain setelah sempat cedera. Tapi akhirnya tak ada satu pun dari tiga pemain ini yang benar-benar kembali. Jurrien Timber bahkan sempat menyebut setelah pertandingan melawan Bayer Leverkusen, kalau dia akan bisa kembali bermain, dengan situasi yang waktu itu terkesan sebagai cedera ringan.
Tapi yang terjadi sebenarnya tidak ringan. Kondisinya tidak ringan. Demikian juga dengan Arsenal. Penugasan Kai Havertz untuk menggantikan peran dari Martin Odegaard an Eberechi Eze jadi oslusi paling praktis. Bahkan jika pemain kelahiran Jerman ini tidak bisa mengimbangi permainan jenius dari mitranya ini. Tapi setidaknya publik akan berharap seorang striker dengan valuasi 65 juta poundsterling akan bisa mencetak gol melawan kiper manapun. Kemudian, prestasi James Trafford yang berhasil mengamankan gawang mereka dari 3 serangan seharusnya bisa menjadi motivasi mereka untuk bisa bangkit dalam pertandingan ini. Tapi entah apa yang sebenarnya terjadi, daya hidup pemain Arsenal seolah ditarik keluar dari pertandingan ini, mulai dair 10 menit pertama. Yang terjadi di tengah lapangan adalah kemampuan serang mereka seolah tersedot dengan cepat dan drastis.
Gelandang Tentukan Kemenangan Manchester City
Yang terpampang di depan mata penonton sangat di luar prediksi. Arsenal gagal memecah kebuntuan dengan para pemain mereka di bagian depan. Manchester City kemudian memanfaatkan situasi ini. Pep Guardiola sudah mengetahui kelemahan fatal ini dari awal dan sudah berencana untuk memanfaatkannya. Tak mau sekadar bergantung pada pemain depan dan belakang mereka, pelatih asal Catalan ini justru menempatkan harapannya ke bagian gelandang mereka. Sebuah keputusan taktis yang kemudian terbukti bisa menyelamatkan tim ini.
Di hari mereka, Leandro Trossard, Bukayo Saka, dan Kai Havertz adalah striker mumpuni di posisi mereka masing-masing. Tapi tidak ada satu pun yang bisa menandingi kemampuan luar biasa yang dimiliki Jeremy Doku, Rayan Cherki, atau Antoine Semenyo yang terbukti terlalu kuat untuk bisa ditangani pemain Arsenal di sore hari itu.
Berusaha dari awal untuk menguasai bola di sepanjang pertandingan, taktik Manchester City menjadi stimulan bagi mereka untuk meraih kemenangan dalam pertandingan di Stadion Wembley. Taktik ini menjadi kunci sekaligus pembuka kans mereka untuk memberi ruang bagi Nico O’Reilly untuk mencetak dua gol sekaligus.
Pertandingan ini menjadi hari ketika kemampuan menyerang individu tampil paling mencolok melebihi kemampuan bertahan kolektif dari seb uah tim. Ketika pemain kunci Arsenal gagal menunjukkan kemampuan terbaik mereka, tim ini pada kenyataannya tidak punya kemampuan yang dibutuhkan ketika pertandingan berubah signifikan ketika Manchester City mengubah pola serangan mereka.
Pengamatan cermat adalah hal wajib dalam dunia sepakbola. Muncul pertanyaan kalau Mikel Arteta seharusnya sudah melakukan evaluasi mendalam tentang pemain yang bisa dia gunakan dalam pertandingan mereka. Pelatih asal Spanyol ini seharusnya membuang jauh-jauh sentimen untuk pemain tertentu dan menugaskan David Raya untuk momen penting seperti ini. Tapi ada juga pertanyaan tentang Noni Madueke dan Riccardo Calafiori yang dianggap terlalu lama masuk. Sementara yang lain masih meragukan kalau Max Dowman benar-benar seharusnya dimainkan untuk pertandingan ini.
Dari semua pertanyaan ini,. setidakya ada satu yang benar. Piero Hincapie yang ditugaskan di babak kedua bukan keputusan terbaik yang bisa dikeluarkan Mikel Arteta. Keputusan ini tak banyak berdampak bagi mereka terutama ketika mereka sebenarnya bisa menggunakan Calafiori idengan lebih baik. Tapi dengan semua yang sudah terjadi, masalah klasik yang sama dari Arsenal kembali muncul. Merkea bermasalah dalam menciptakan kesempatan untuk mencetak gol ketika jumlah pemain mereka terbatas.
Sekarang harapan mereka untuk bisa menyelesaikan musim dengan 4 trofi sudah hangus. Tapi mimpi ini dari awal memang sudah diragukan bisa mereka wujudkan bahkan dengan dukungan luar biasa besar dari penggemar mereka. Tapi dampak psikologis yang akan mereka tanggung dari pertandingan ini akan berlangsung lebih lama dari seharusnya. Dari hasil yang mereka dapatkan saat melawan Manchester City, mungkin mereka harus berjuang lebih serius untuk bisa menjuarai EPL.
