Lompat ke konten

Apakah Pep Guardiola Pelatih EPL Terbaik Sepanjang Masa?

  • oleh

Liga Primer Inggris atau EPL menjadi salah satu turnamen sepakbola yang sangat bergengsi di seluruh belahan dunia. Ada banyak orang mengagumi turnamen ini meski hanya diselenggarakan dalam ranah domestik Inggris. Persaingan yang sangat intens membuat turnamen ini banyak melahirkan sosok fenomenal. Tak melulu tentang pemain, sosok fenomenal EPL juga tak jarang lahir dari bagian lain, termasuk pelatih. Barangkali dari semua pelatih yang pernah membangun karirnya di turnamen ini, nama Pep Guardiola cukup sering mendapat sorotan. Keberhasilan Manchester City membangun reputasi sebagai yang terkuat di seantero negeri tak bisa dipisahkan dari pelatih berdarah Catalan ini. Tapi apakah dia memang layak untuk mendapat gelar sebagai pelatih terbaik di sepanjang sejarah turnamen ini?

Pep Guardiola Siap Ambil Langkah Baru

Pelatih Manchester City, Pep Guardiola, sudah cukup sering menjadi tajuk pemberitaan di banyak media. Sekarang dia kembali diberitakan, tapi bukan karena keberhasilannya untuk melahirkan rekor baru. Pelatih legendaris ini disorot media setelah diberitakan akan meninggalkan Stadion Etihad setelah musim sekarang berakhir. Kalau benar terjadi, maka langkah ini akan mengakhiri sebuah perjalanan 10 tahun yang sangat fenomenal dan kaya akan prestasi yang dijalaninya bersama Manchester City.

Spekulasi di seputar masa depan pelatih berusia 55 tahun ini memang sudah menjadi topik pembicaraan yang cukup lama. Banyak pihak bertanya-tanya tentang langkah yang akan dia ambil berikutnya. Kontraknya bersama Manchester City memang baru akan berakhir di bulan Juni tahun depan. Tapi seorang pelatih dengan kemampuan yang dia miliki akan sangat wajar kalau kemudian diincar tim sampai negara lain. Tentang hal in, dia sebelumnya sempat meyakinkan publik melalui media kalau dirinya masih mempunyai waktu satu tahun lagi sebelum kontraknya selesai. Tapi waktu itu, dia belum memberikan konfirmasi dalam bentuk apapun tentang rencananya antara bertahan atau pergi di musim panas nanti.

Masa Depan untuk Pep Guardiola

Sekarang, beberapa media mulai memberitakankalau Pep Guardiola akan segera menanggalkan perannya sebagai pelatih. Dia akan berhenti setelah pertandingan final Liga Primer mereka di kandang melawan Aston Villa pada hari Minggu yang akan datang. Selain dia, dua pemain Manchester City yang lain: John Stones dan Bernardo Silva, juga akan mengucapkan perpisahan dari tim ini.

Selama bersama mereka, pria asal Catalan ini telah mengumpulkan 20 gelar juara. Tahun ini dia berpotensi menambahnya kalau saja mereka bisa mematahkan peluang Arsenal uuntuk menjadi juara di EPL. Pelatih Manchester City ini bergabung pertama merkea pertama kali pada tahun 2016 yang lewat. Berkat perannya, dia dipuji-puji sebagai otak jenius dalam mengembangkan Manchester City, sebagian didukung pengalamannya di Bayern Munich dan Barcelona. Transformasi besar-besaran yang dilakukannya di Manchester City sekarang mengangkat namanya sebagai salah satu kandidat pelatih terbiaks epanjang masa. Memang pertanyaan bvesar yang berkembang sekarang adalah jika memang dia berhak untuk dipandang sebagai pelatih terbaik dalam sejarah Liga Primer Inggris.

Manchester City Sekarang

Perlu dicatat kalau Manchester City sampai saat ini masih menunggu 115 dakwaan di Liga Primer Inggris benar-benar diangkat dari mereka. Tapi sampai tim ini dinyatakan bersalah, maka warisan Pep Guardiola dan kebehrasilan klub ini tidak bisa dianggap nihil. Sebagai pelatih, dia telah secara sistematis menulis ulang sejarah tim ini sejak begabung bersama mereka. Dia nanti akan meninggalkan tim ini sebagai pelatih paling berprestasi kedua di sejarah EPL. Enam trofi yang dia dapatkan sampai saat ini menempatkannya hanya di bawah Sir Alex Ferguson yang mendapatkan 13 trofi.

Banyak orang beranggapan kalau Ferguson menjadi satu-satunya nama yang bisa menyaingi Pep Guardiola dalam menjadi pelatih terbaik sepanjang masa di EPL. Pelatih legendaris berdarah Skotlandia ini akan dipandang selamanya sebagai juara yang sangat disiplin dan berkomitmen yang berhasil membangun tim pemenang di berbagai era.

Memang, konsistensi Ferguson dalam bermain dengan kemampuan terbaik memang tak perlu diragukan. Tapi belum pernah ada pelatih di dunia moden yang bisa mengklaim bisa memberikan dampak perubahan di sepakbola Inggris daripada Pep Guardiola. Dia dalah pemain yang berkat konsistensi dan keunggulannya berhasil membentuk kembali makna sebenarnya dari menjadi seorang juara.

Ketika dia tiba di Manchester City pada tahun 2016 yang lewat, pelatih ini mewajibkan semua pemainnya untuk bisa nyaman bermain dengan bola, termafsuk kiper. Pola bermain yang baru ini membuat mereka harus beradaptasi dan menghadapi kenyataan kalau musim pertamanya tidak berjalan dengan mulus.

Tapi di musim kedua, semua masalah sudah berhasil mereka atasi dan tim sudah terbangun dengan baik. Yang paling terkenang publik adalah ketika tim ini mengganti kipernya dari Claudio Bravo ke Ederson. Pergantian ini membuat mereka mendapatkan kiper dengan kemampuan solid yang kemudian akhirnya menjadi legenda. Manchester City mengamankan 100 poin mereka dalam musim 2017-18, sebuah prestasi yang belum pernah mereka raih sebelumnya dan mungkin akan sulit mereka dapatkan lagi di masa depan. Dalam 38 pertandingan, mereka menang 32 kali, mencetak 106 gol, dan unggul 19 poin dari tim yang berada di peringkat kedua.

Pada titik ini, Pep Guardiola telah membisukan semua anggapan negatif tentang dirinya. Kemampuan teknis, fleksibilitas, serangan, dan gaya bermainnya yang sering tak terduga, digambarkan banyak orang sebagai sebuah penampilan yang sangat menghibur. Menurut mantan kapten Manchester City, Ilkay Gundogan, dia adalah seorang pelatih yang membuka mata banyak orang tentang detil kerja dan ambisi yang sebelumnya tidak dikethaui.

Memang, Ferguson adalah seorang pemenang juara dengan caranya, tapi beda halnya dengan pelatih Manchester City tadi, dia tidak meninggalkan warisan yang sangat fundamental dalam filosofi bermain yang bisa diikuti oleh pelatih lain. Dahaga Manchester City untuk bisa kembali berhasil di bawah pelatih mereka muncul pada musim 2018/19 ketika merkea menjadi tim pertama dalam sejarah sepakbola Inggris yang menang 4 trofi domestik dalam satu musim: Community Shield, Piala EFL, Piala FA, dan Liga Primer. Prestasi ini mereka dapatkan termasuk dengan mengumpulkan 98 dalam satu musim melawan Liverpool dan Jurgen Klopp.

Manchester City kemudian menjadi tim kedua dalam sejarah Inggris setelah Manchester United dan Ferguson yang menang di tahun 1999 dengan mendapat trebel UCL, EPL, dan Piala FA. Mereka memenangkan UCL setelah menunggu bertahun-tahun, berkali-kali salah menyerang gawang, dan membangun sserangan intens untuk akhirnya memastikan status mereka sebagai penghuni puncak peringkat.

Kemenangn di EPL selalu menjadi prioritas bagi Pep Guardiola daripada kejuaraan lain. Manchester City berkat jasanya mengukir nama mereka dalam sejarah ketika tim ini menjadi yang pertama yang pernah menang 4 kejuaraan domestik Inggris secara beruntun dari tahun 2020 sampai 2024. Enam juara yang mereka dapatkan di EPL dirayakan lebihd ari i7 musim dengan 90 atau lebih pooin yang merkea dapatkan di 4 turnamen ini dan paling tidak 86 poin mereka amankan dalam semua kemenangan tadi. Kalau dibandingkan Ferguson hanya bisa mengumpulkan 3 dari 13 kemenangan mereka dengan mengumpulkan paling tidak 90 poin dengan hanya satu juara mereka dapatkan di musim yang berjalan selama 42 pertandingan.