Manchester City dikenal sebagai salah satu tim yang sangat unggul di seantero Eropa. Tim ini langsung melejit popularitasnya sejak mereka menunjuk Pep Guardiola sebagai pelatih. Sebagai pria yang bertanggung jawab besar untuk menentukan arah tim ini, Pep Guardiola tidak hanya bertugas untuk menentukan strategi bermain mereka di setiap pertandingan. Tapi dia juga punya porsi besar dalam mengarahkan tim untuk menentukan nama pemain yang akan bertahan, datang, atau pergi. Belakangan, setelah muncul kabar kalau pelatih asal Catalan ini akan segera mengakhiri tugasnya di Manchester City, publik mulai penasaran tentang sosok yang akan menggantikan tugasnya di sana. Dengan prestasi mentereng yang diraihnya bersama Manchester City, tidak mudah menemukan nama yang tepat. Dari sekian nama yang bertebaran di publik, nama Vincent Kompany mulai ramai dibahas.
Sekilas tentang Vincent Kompany
Mantan bek sekaligus ikon klub Manchester City, Vincent Kompany, sukses membangun karirnya di Bayern Munich. Tapi sebagia pelatih, dia sudah lama meninggalkan gaya bermain tradisional yang diwarisinya dari Pep Guardiola. Pelatih Bayern Muncih ini memilih untuk mengakhiri relasinya dengan Manchester United dan bergabung dengan Bayern Munich. Disana, dia berhasil membangun karirnya dan menarik perhatian publik sebagai pelatih mereka.
Karirnya pertama dibangun sebagai pelatih pemain di Anderlecht. Kemudian, dia bergabung ke Burnley dan sukses mengantarkan mereka bersinar di Championship. Sekarang, namanya semakin dikenal berkat proyeknya yang sukses besar di Bayern Munich. Keberhasilannya pada musim ini terbukti ketika mereka berhasil mencetak lebih dari 300 gol dalam 100 pertandingan. Angka ini sudah nyaris menyamai rekor di Bundesliga. Berkat prestasi ini, namanya sekali lagi masuk sebagai salah satu kandidat untuk menggantikan Pep Guardiola sebagai pelatih di Manchester City.
Sistem yang Dibangun di Bayern Munich
Dulu ketika masih sebagia pemain, Vincent Kompany sering bermain dengan model bermain klasik berdasarkan posisi. Sementara sejak bertugas sebagai pelatih, dia tak lagi menggunakan pendekatan ini. Tapi memang masih ada beberapa gaya Pep Guardiola yang berdampak pada gaya melatihnya.
Musim sekarang jadi yang terbaik untuk Bayern Munich. Tim ini mengadopsi gagasan dari permainan relasional, sebuah konsep yang menempatkan pemain berdasarkan kluter, perkembangan bertahap melalui kombinasi cepat, pola umpan jarak pendek, dan menggiring bola. Saking sulitnya menerapkan pola ini, Bayern Munich sampai sekarang menajdi yang satu-satunya bisa menerapkan pola bermain ini di level tertinggi.
Tim-tim lain mencoba menggunakan pendekatan yang sama, bahkan ada yang lebih radikal. Tapi biasanya dalam konteks yang kurang intens dan hanya bisa mencapainya dengan hasil beragam. Fernando Diniz salah satunya, berhasil menang Copa Libertadores dengan gaya yang sama, tapi sebaliknya justru menghadapi hujan kritik. Jose Alberto juga berhasil memimpin divisi kedua Spanyol dengan Racing Santandder, sementara NEC menempati peringkat ketiga dengan pola yang sama di Liga Belanda di bawah Dick Schreuder.
Para pelatih ini sama-sama memilih gaya bermain yang berani. Tapi tidak ada satu pun yang berada di bawah tekanan sebesar yang dihadapi Bayern Munich. Vincent Kompany berhasil membangun tim yang agresif dengan rotasi pemain konstan. kebebaasan untuk bergerak bagi bek dan striker, dan garis yang sangat tinggi, bahkan untuk level ini
Bayern Munich di bawah Vincent Kompany sering bermain menggunakan formasi 2-2-6. Pola ini menggunakan bek di posisi tinggi, bebas menggiring bola ke depan dan ruang menyerang. Dalam sebuah video viral, Harry Kane menunjukkan perannya sebagai striker utama yang bergerak bebas sampai ke bagian belakang, sering bekerja dengan bek tengah emreka, untuk membantu membangun pola bermain mereka.
Gagasan di balik skema ini adalah maju di satu sisi dengan konsentrasi pemain yang tinggi, menggunakan pola pertukaran posisional untuk membingungkan pertahanan lawan dan menciptakan keunggulan secara angka. Prinsip bermain Pep Guardiola tetap digunakan disini: menemukan pemain yang bebas, menciptakan beban berlebih, dan menarik lawan kelaur untuk menciptakan ruang mencetak gol. Tapi cara gagasan ini diterapkan yang sama sekali berbeda.
Dari gaya Pep Guardiola di Manchester City sampai Tite di timnas Brasil, sebagian besar tim menyerang dengan struktur seperti 2-3-5 atau 3-2-5. Tapi seiring waktu, lawan bisa beradaptasi dengan menggunakan 5 orang pemain bertahan, menghilangkan keuntungan secara angka. Untuk mengatasinya, pelatih Bayern Munich ini mencoba menggunakan format 2-2-6, menerapkan lebih banyak tekanan di bagian belakang dan menciptakan keunggulaan dalam kedalaman bermain.
Perbedaan Vincent Kompany dengan Pep Guardiola
Menurut pantauan M88, sebagai pemain, Vincent Kompany memimpin Manchester City di bawah arahan Pep Guardiola yang menggunakan format klasik 4-3-3. Memang ada beberapa variasi yang diterapkan di beberapa pertandingan, tapi kurang lebih sama. Terkadang gelandang ditemaptkan melebar, ke dalam, atau justru bek penuh yang terbalik. Semua format yang digunakan sama-sama menerapkan prinsip penempatan rasional terhadap ruang yang menjadi kunci.
Guardiola menekankan pembagian lapangan ke dalam zona yang harus selalu ditempati. Dalam praktiknya, taktik ini menekankan pada mempertahankan lebar lapangan, setengah lapangan, dan kehadiran di tengah selama fase menyerang. Pemain juga diwajibkan untuk memperdalam tekanan mereka dan menerima bola sambil menghadap gawang. Kalau pertahanan berkurang untuk mengatasi ini, akan tercipta ruang di antara baris pemain lawan, menciptakan siklus yang bisa digunakan untuk mengungguli penguasaan bola di area depan.
Vincent Kompany belajar banyak dari filosofi ini. Enam peamin depannya menekan bagian belakang untuk merusak konsentrasi pemain dan menciptakan ruang di antara pos lawan atau antarruang. Perbedaan utama terletak pada cara ruang ini diserang. Guardiola lebih menekankan peran tetap, seperti gelandang yang menyerang melebar pada situasi satu lawan satu. Sementara itu, gelandang menyerang bagian depan untuk menarik bek dan pemain lain yang bebas.
Di Bayern, peran pemain lebih dinamis. Luis Diaz bisa saja bermain sebagai gelandang, tapi diizinkan bergerak ke tengah. Sementara gelandang lain bergerak melebar dan kemudian bek penuh mereka juga masuk. Harry Kane bisa turun ke belakang, untuk berganti peran dengan Diaz menyerang seperti layaknya peran striker. Tapi semua ruang ini tetap ada yang mengisi, tapi dinamis. Pol seperti ini tidak berarti kalau pemain Guardiola kurang bebas bergerak, tapi sistem yang digunakannya lebih bergantung pada pola tetap. Sementara pelatih Bayern Munich tadi mendorong perubahan posisi yang mempertahankan struktur sambil menciptakan fleksibilitas dalam yang menempati setiap ruang.
Kalau ditanya, apakah Vincent Kompany benar-benar layak untuk menjadi pengganti Pep Guardiola, maka jawabannya lugas: ya. Mantan bek mereka ini memiliki ikatan yang kuat ke klub dan mengenal banyak staf serta pemain. Dia juga telah membuktikan dirinya di Inggris dengan pengalaman di EPL sampai Bundesliga di Jerman. Liga Champions juga tidak luput. Pep Guardiola juga sering memujinya, yang akan semakin meningkatkan daya tawarnya. Secara taktis, dia memiliki profil skuad yang bisa digunakan untuk menduplikasi gagasan dan cara bermainnya di Bayern. Dia juga tampak mudah beradaptasi dengan tekanan yang lebih intens, serta sifat sepakbola Inggris yang lebih menekankan pada transisi.
Tantangan paling besar yang harus dia hadapi akan terletak di kontrak. Vincent Kompany masih terikat kontrak di Bayern sampai 2029, tanpa denda pemutusan kontrak lebih awal. Ini artinya pemindahannya dari sana akan mewajibkan negosiasi signifikan antara dua klub atau pemutusan kontrak. Sedangkan Pep Guardiola masih bertugas sampai 2027, yang akan menandai 10 musimnya bersama mereka. Ketika diminta pandangannya tentang topik ini di bulan Desember lalu, Vincent Kompany mengatakan kalau dia suka untuk hidup di saat ini, yang membuatnya bisa fokus. Dia tidak berpikir tentang tim lain, hanya Bayern Munich.
